Kereta cepat China atau China Railway High-speed.

Menempuh 700km di atas kereta cepat China

Jakarta (Otolovers) - Konsorsium BUMN Indonesia bersama investor China sedang membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, sebuah proyek percontohan angkutan massal modern yang sudah lama didambakan di negeri ini.

China memang punya banyak pengalaman untuk urusan yang satu ini, selain kisah suksesnya di Brasil, jaringan kereta cepat yang sudah menjadi angkutan andalan bagi masyarakat "Negeri Panda" adalah bukti nyata.

Awak Otolovers beberapa hari lalu berkesempatan membuktikan eksistensi kereta cepat China yang di negerinya dijuluki CRH (China Railway High-speed), yang menghubungkan banyak kota-kota pinggiran dengan kota-kota besar, termasuk ibukota.

Tapi, tidak seperti di Jepang, yang jaringannya begitu menyatu dengan fasilitas-fasilitas utama seperti bandar udara (airport) dan pusat-pusat kota, di China stasiun kereta cepat tidak semuanya terintegrasi dengan bandara.

Bersama rombongan SGMW Motor Indonesia (Wuling), awak Otolovers pada 17 Februari lalu harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari bandara Guangzhou menuju stasiun utama di kota itu.

Setelah melewati beberapa landmark seperti Koin Emas China, bangunan warna emas yang menyerupai uang logam yuan, kemudian Sungai Mutiara (Pearl River), sampailah kami di stasiun kereta cepat Guangzhou.

Bangunan besar dengan atap tinggi menanti kami, mungkin lebih besar dari sebuah terminal di Bandara Soekarno Hatta, namun dengan penataan sederhana yang memudahkan akses para penumpangnya.
{image}
Secara umum, bangunan stasiun utama Guangzhou hanya terbagi dalam tiga bagian; lobi dan ruang tunggu, peron tempat naik dan turun penumpang, serta area parkir yang cukup luas.

Dari lobi, Otolovers melewati satu pintu pemeriksaan karcis (tiket) berikut identitas, sebelum kemudian menjumpai ruangan sangat luas yakni ruang tunggu penumpang--ada ribuan orang yang sudah duduk di sana.

Sembari menunggu lebih satu jam--karena kereta kami berjadwal keberangkatan pukul 19.30 waktu setempat, Otolovers melihat cengkrama, ada juga yang menyempatkan bersantap, seperti halnya kami yang membawa sekantong burger, buah, kentang goreng, dan sebotol minuman.

Tidak ada tempat sampah di tempat itu, selain pekerja kebersihan yang berkeliling membawa bak besar beroda dan memunguti sampah yang ditinggalkan penumpang di meja-meja kecil di tengah bangku panjang.
[image]
Bagi yang perokok, ada ruangan merokok khusus di lantai dua--luasnya sekitar 5x5 meter, berpendingin ruangan super cold, dan ada banyak dipajang berbagai korek api serta sovenir jika Anda tertarik membelinya.

Sekitar 15 menit menjelang keberangkatan, Otolovers sudah mengantre melewati pemeriksaan akhir menuju peron kereta cepat--dengan pintu (gate) berjajar di samping ruang tunggu--, yang dibagi dalam beberapa pintu sesuai tujuan. Kami masuk melalui pintu B25.

Di peron kereta cepat tidak berhenti lama, penumpang harus bergegas masuk sesuai dengan nomor gerbong dan nomor kursi yang tertera di tiket pada umumnya.

Petang itu rombongan SGMW Motor Indonesia akan menuju Liuzhou, sebuah kota di timur China di mana SGMW berkantor pusat dan mengoperasikan dua fasilitas produksi kendaraan MPV dan SUV. Tiket ke kota itu berharga 180,5 yuan atau sekitar Rp360.000 per penumpang.
[image]
Dengan menempuh perjalanan sepanjang lebih dari 700km, kami berada di kereta cepat RCH selama sekitar empat jam, dengan kecepatan kereta bervariasi, kadang 105km per jam, 150km per jam, dan di atas 200km per jam saat di lintasan bebas hambatan.

Melihat keluar dari jendela kereta cepat, Otolovers sama sekali tidak merasakan kecepatan tinggi, tidak berbeda layaknya kita mengintip dibalik jendela kereta api eksekutif di Indonesia, meskipun kami merasakan jauh lebih nyaman dan tidak berisik alias senyap.

Kami nyaris tidak merasakan dan mendengar suara ketika roda melewati sambungan rel, seperti yang biasa kita dengar keras pada kereta-kereta api atau kereta rel listrik di Indonesia. Ini benar-benar jauh lebih nyaman.
[image]
Sesekali ada wanita muda lewat menawarkan makanan yang disediakan oleh awak kereta cepat, kemudian ada yang mengambil sampah bungkus makanan dan lain-lain dari kursi-kursi penumpang sembari membagikan kantong sampah baru. Pemeriksaan tiket tetap ada selama perjalanan meskipun mereka melakukannya secara acak.

Setelah bercengkrama, makan, dan tidur, akhirnya kami sampai di stasiun Liuzhou lewat tengah malam, disambut banyak ojek di depan stasiun, di kota yang bersuhu lebih dingin dari Guangzhou--pada Februari ini. Malam itu suhu di Liuzhou berkisar 11 derajat Celsius.

Ketika hari libur, Sabtu dan Minggu, stasiun-stasiun kereta cepat akan jauh lebih ramai dari week days. sering berjubel di stasiun kota kecil seperti Liuzhou. Operator pun menjual tiket tanpa tempat duduk untuk saat-saat week end, jadi Anda akan menemukan beberapa penumpang berdiri di lorong-lorong pintu dekat toilet kereta--yang ruangannya cukup luas atau jauh lebih luas dari kereta api di Indonesia.
[image]
Kereta cepat RCH menjadi andalan bagi warga-warga kota-kota pinggiran China saat mereka berlibur atau mengunjungi keluarga di kota-kota lain. Hati-hati juga jika Anda mengantongi barang berharga di saku celana atau baju ketika stasiun sedang ramai jika Anda tidak ingin kehilangan barang di hiruk pikuk stasiun seperti Liuzhou.

Di China belum semua kota terlayani oleh kereta cepat, provinsi selatan seperti Yunan misalnya, belum tersedia fasilitas dan layanan kereta cepat RCH, mungkin akan menyusul segera karena pembangunan di sana begitu cepat dengan prinsip sederhana "setahun perubahan kecil, tiga tahun perubahan besar, dan lima tahun perubahan sangat besar".

Editor: Ivan Setyanto

COPYRIGHT © Otolovers.com 2016